Pengaruh Perubahan Suhu terhadap Distribusi dan Tingkah Laku Ikan
Dampak Perubahan Suhu Perairan terhadap Distribusi dan Tingkah Laku Ikan.
Diantara berbagai faktor yang mempengaruhi migrasi dan tingkah laku ikan, suhu merupakan salah satu faktor fisik yang sangat berpengaruh.
Faktor-faktor luar yang mempengaruhi suatu jenis ikan, akan menyebabkan ikan tersebut melakukan taksis. Taksis merupakan pergerakan pada ikan yang disebabkan karena pengaruh faktor luar yang menjadi perangsang. Taksis memiliki hubungan yang erat dengan proses ruaya/migrasi ikan.
Rangsangan berupa suhu akan menyebabkan ikan melakukan pergerakan thermotaksis. Thermotaksis merupakan salah satu nama gerakan dari kelompok gerakan Alimetal taksis (Thropotaksis).
Thermotaksis terdapat diantara ikan-ikan eurythermik yang menyenangi suhu perairan yang tinggi atau yang rendah. Thermotaksis yang demikian sudah dikenal oleh para nelayan. Bila dalam suatu perairan terdapat beberapa lapisan suhu, maka ikan yang menyenangi suhu tinggi akan akan terdapat dalam lapisan air yang suhunya tinggi, demikian pula ikan yang menyenangi suhu rendah akan terdapat pada lapisan air dengan suhu rendah.
Untuk ikan yang hidup pada daerah dengan empat musim, suhu perairan tiap musim mengalami perubahan secara gradual. Namun ikan memiliki kesanggupan untuk mendeteksi perubahan suhu meskipun tidak terdapat organ thermoreceptor khusus. Penaikan atau penurunan suhu perairan merupakan rangsangan alami untuk mengadakan persiapan beruaya dan jawabannya adalah bentuk ruaya. Ikan yang mengadakan ruaya pada awal musim panas untuk berpijah, sejak awal musim semi dimana suhu perairan sudah mulai sedikit naik, ikan-ikan tersebut sudah mulai mengadakan persiapan. Demikiam juga ikan yang mengadakan ruaya over-wintering, jika telah siap, perubahan suhu yang besar merupakan tanda perlu mengadakan ruaya.
Menurut Clemens (1961) penangkapan ikan peruaya (Thunus germo) ada hubungannya dengan suhu perairan. Didapatkan bahwa hasil penangkapan ikan paling banyak terdapat pada suhu perairan antara 15-20°C. Juga terdapat hubungan antara suhu perairan dengan ukuran ikan yang ditangkap. Ikan-ikan yang beratnya 9 kg, ditangkap pada perairan dengan suhu 19°C, ikan yang lebih besar ditangkap pada suhu yang lebih tinggi. Ikan yang muda berumur antara 2-3 tahun yang terdapat di California bergerak di perairan dangkal pada isotherm 14°C sepanjang 1000 mil yang terbentang dari utara ke selatan. Di samping itu di daerah perikanan California terdapat banyak ikan Thunus germo pada perairan dekat permukaan yang suhunya lebih tinggi dari 14°C. Di daerah ini terdapat cukup zat asam, cukup mendapat sinar matahari dan produksi bahan organiknya tinggi. Dalamnya perairan ini tidak lebih dari 100 m. Di laut Pasifik terdapat perairan albacore yang menjulur dari California ke sebelah barat, dimana ketika Bulan Mei - Juni suhunya antara 15-20°C. Ikan yang terdapat di daerah makanan perairan albacore ini bergerak horisontal atau vertikal tergantung kepada fluktuasi, jumlah dan persediaan makanannya.
Perubahan temperatur pada ekosistem pesisir dan laut akan berpengaruh terhadap metabolisme dan mengubah proses ekologi seperti produktivitas dan interaksi spesies. Adaptasi suatu spesies, tergantung dari rentang suhu tertentu pada suatu lingkungan. Sebagai akibat dari perubahan suhu, suatu spesies akan melakukan perluasan distribusi geografi, dan menghasilkan kombinasi baru dari interaksi spesies dengan cara yang tidak terduga. Sedangkan spesies yang tidak dapat melakukan ruaya atau tidak dapat bersaing dengan spesies lainnya mungkin akan mengalami kepunahan.
Perubahan iklim cenderung mengubah pola sirkulasi angin dan air di lautan. Misalnya perubahan tersebut dapat mempengaruhi gerakan vertikal air laut (yaitu upwelling dan downwelling), menambah atau mengurangi ketersediaan nutrisi penting dan oksigen bagi organisme di laut. Perubahan pola sirkulasi laut juga dapat menyebabkan perubahan besar pada lautan regional, temperatur daratan dan distribusi geografi spesies-spesies di laut.
Ada beberapa prediksi bahwa perubahan suhu akan berpengaruh terhadap fisiologi, kelimpahan dan distribusi organisme laut, konsentrasi oksigen dan permukaan air laut.
Banyak spesies yang sensitif terhadap perubahan suhu beberapa derajat pada habitat alaminya. Kenaikan suhu sekecil 1°C, dapat berefek terhadap mortalitas dan pola distribusi geografis organisme di lautan.