Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Mengenal Bioluminescence dan organ cahaya pada ikan.


Banyak organisme yang dapat mengetuarkan cahaya. Cahaya ini dinamakan bioluminesens, yang secara umum berwarna biru atau biru kehijauan. Pada beberapa jenis ikan keberadaan organ cahaya memiliki makna yang bsar dalam menopang kelangsungan hidup mereka. Ikan yang dapat mengeluarkan cahaya sebagian besar tiggal di bagian laut-dalam dan hanya sedikit yang hidup di perairan dangkal.

Ikan ini mendiami habitat pada kedalaman antara 500-1000 meter. Sebagian ikan bercahaya tersebut bergerak ke arah permukaan untuk mencari makanan. Cahaya yang dikeluarkan oleh ikan berasal dari dua sumber, yang keduanya terdapat pada kulit, yaitu cahaya yang timbul dan fotofora (fotosit) dan cahaya yang dikeluarkan oleh bakteri yang hidup bersimbiosis dengan ikan.
Sumber : https://sciworthy.com
 
Fotolora terdapat pada Elasmobranchii (Spinax, Etmopterus, Ben thobathis rnoresbyi) dan Teleostei (Stomiatidae MyctophiformeS Batrachoididea). Bahan kimiawi yang berperan dalam proses dihasilkannya cahaya adalah lusiferin dan Iusiferase. Cahaya dapat dihasilkan melalui percampuran kedua bahan tersebut yang merupakan reaksi oksidasi. Oleh karena itu oksigen mutlak diperlukan walaupun jumlahnya kecil. Stimulan yang menyebabkan ikan mengeluarkan cahaya dapat berupa rangsangan mekanik, lstrik, dan kimiawi. Pengendalian terhadap pengeluaran cahaya dilakukan melalui sistem saraf secara Iangsung atau melalui sistem euromuskular dan sistem otot.

Bakteri yang dapat mengeluarkan cahaya terdapat di dalam kantung kelenjar di epidermis. Pemantulan cahaya yang dikeluarkan bakteri diatur oleh suatu jaringan yang berfungsi sebagai lensa. Pada bagian yang berlawanan dengan lensa banyak terdapat pigmen yang berfungsi sebagai pemantul. Ada juga kelenjar yang berisi bakteri dilikelilingi oleh sel-sel pigmen seluruhnya. Pemancaran cahaya yang dilkeluarkan oleh bakteri diatur oleh konstraksi pigmen yang berfungsi sebagai iris mata. Bakteri cahaya yang hidup bersimbiosis lengan ikan ditemukan antara lain pada Macroridae, Gadidae, Vlonoccntridae, Saccopharyngidae, Leiognathidae, Serranidae, dan knomalopidae. Di Banda ikan leweri batu (Photoblepharon ,alpebratus) dan leweri air (Anomalops katoptron), yang keduanya termasuk Famili Anomalopidae mempunyai bakteri cahaya yang terletak di bawah matanya. Kedua ikan ini hidup di perairan dangkal.

Anomalops mengeluarkan cahaya yang berkedip-kedip secara teratur yang dikendalikan oleh organ cahaya yang keluar masuk suatu kantung pigmen hitam di bawah mata. Photoblepharon memancarkan suatu cahaya yang menyala terus, tetpi dapat pula dipadamkan oleh suatu Lipatan jaringan hitam yang menutupi organ cahayanya.

Pada ikan Malacocephalus yang hidup di perairan dalam pengeluaran cahaya berperan dalam pemijahan. Kekuatan cahayanya dapat menerangi sejauh 10 meter dengan panjang gelombang 410-600 mpi. Pada musim pemijahan bila ikan jantan bertemu dengan ikan betina, maka si jantan akan membimbing betinanya untuk mencari tempat yang cocok untuk berpijah. Cahaya yang dipakai ikan dipakai sebagai isyarat untuk diikuti oleh si betina.

Ikan petek (Leiognathus elongatus) mempunyai organ cahaya yang terletak pada bagian ventral tubuhnya. Cahaya yang dikeluarkan menyala dan padam bergantian secara berkala. Organ ini hanya dipunyai oleh
ikan jantan, yang berfungsi untuk melakukan komunikasi intraspesifik (Sasaki et al., 2003).Angler fish (Linciphryne brevibarbis) yang hidup di dasar laut mempunyai tentakel yang bercahaya. Diduga ikan ini mempunyai kultur bakteri yang terdapat pada kulitnya. Tentakel yang ujungnya mempunyai jaringan yang membesar itu digosokkan di atas kultur bakteri tersebut, sehingga hakteri yang bercahaya terbawa oleh tentakel untuk menarik perhatian mangsanya.

Dari uraian di muka dapatlah diringkaskan bahwa fungsi organ cahaya pada ikan ialah sebagai tanda pengenal di antara individu ikan sejenis, untuk memikat mangsa, mengejutkan musuh dan melarikan diri, dan untuk menerangi lingkungan di sekitarnya sebagai penyesuaian diri terhadap ketiadaan sinar di laut dalam. Diduga organ cahaya sebagai ciri ikan beracun.

Sumber :
Rahardjo M. F., Sjafei D.S., Affandi R., Sulistiono, Hutabarat J. 2011. Ikhtiologi. Lubuk Agung : Bandung.